Jumat, 11 Januari 2019


LUMBA-LUMBA Belang (Striped Dolphin) yang terdampar di sisi barat Pantai Cucuk, Blitar, Jawa Timur dan sempat ditolong masyarakat serta diberikan bantuan upaya agar bisa kembali ke laut, akhirnya mati.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Lumba-lumba Belang terdampar dan ditemukan oleh warga masyarakat pada Selasa (8/1) menjelang pukul 08.00. Masyarakat langsung mencoba memberikan pertolongan agar Lumba-lumba Belang tersebut bisa kembali ke laut yang berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Sayangnya, Lumba-lumba Belang itu kembali menepi dan berada di bibir pantai pada pukul 13.00, dan ternyata kembali ke bibir pantai pada pukul 15.00 dengan kondisi fisik yang melemah.

"Informasinya sebelum dievakuasi, warga masyarakat bersama-sama mencoba memberikan bantuan pada Lumba-lumba Belang yang terdampar itu. Tetapi memang kondisinya melemah disertai luka-luka pada bagian tubuhnya," terang Amang Raga aktivis penyelamatan satwa, Jumat (11/1).

Selanjutnya, Lumba-lumba Belang dievakuasi tim anggota Pokmaswas Bina Samudra, Blitar kedalam kolam bak viber di samping sebelah kiri kantor sekretariat Pokmaswas Bina Samudra yang tidak jauh dari lokasi pantai.

Mengingat keterampilan yang belum memadai para anggota Pokmaswas Bina Samudera terkait dengan upaya evakuasi Lumba-lumba, kemudian berkoordinasi dengan sejumlah instansi.

Koordinasi dilakukan dengan BPSPL Denpasar, DKP Provinsi Jawa Timur, UPT Tambak Rejo, P2SKP, Sahabat Alam Indonesia, JAAN, Dolphin Project, COP sebagai upaya mendapatkan bantuan lebih untuk mengidentifikasi Lumba-lumba yang terdampar tersebut.

Tim pertama terdiri dari personil JAAN dan Sahabat Alam Indonesia, yang tiba dilokasi sehari sesudahnya Rabu (9/1) langsung melakukan pengecekaan, Lumba-lumba yang masih dalam kondisi hidup.

"Tim pertama yang terdiri dari personel Jakarta Animal Aid Network (JAAN) bersama Sahabat Alam Indonesia sempat melakukan identifikasi dan perekaman video guna mendokumentasikan kondisi terakhir lumba-lumba yang di evakuasi kemudian dilakukan rehabilitasi," lanjut Amang.

Pelaksanaan rehabilitasi selanjutnya dilaksanakan Tim 2 yang terdiri dari personil Dolphin Project, BPSPL Denpasar, COP, juga melakukan pengecekan ulang. Sayangnya, Lumba-lumba telah dalam kondisi mati.

"Pada kondisi seperti itu, diputuskan untuk dimusnahkan karena Lumba-lumba sudah dalam keadaan mati. Pemusnahan bangkai Lumba-lumba itu dilakukan dengan cara dikubur. Tetapi tim sebelum memusnahkan terlebih dahulu melaksanakan identifikasi morfometri," kata Amang yang juga aktiv merehab Orangutan.

Berdasarkan identifikasi morfometri yang dilakukan tim, kematina Lumba-lumba Belang diperkirakan atau diduga akibat fraktur pada bagian bawah blowhole.

Sedangkan mengacu bekas luka-luka robekan yang ditemukan pada bagian tubuh lumba-lumba, dapat dipastikan bukan sebagai luka dampak jaring nelayan.

"Data post mortem menyebut, Lumba-lumba Belang atau Striped Dolphin (Stenella Coeruleoalba), berjenis kelamin jantan dewasa dengan berat sekitar 50Kg, dengan panjang 147cm. Ditemukan juga sekitar 180 luka gores, juga ditemukan Jamur 14 buah. Lain-lain, Lumba mengalami inflamasi akut pada mata kanan, serta fraktur pada blowhole," pungkas Amang.

Masyarakat, tambah Amang, khususnya masyarakat nelayan dan mereka yang tinggal di tepi pantai butuh pengetahuan dasar atau wawasan berkaitan dengan pertolongan pertama jika menemui Lumba-lumba terdampar.



Info dan foto: www.suarasurabaya.net.
Editor: Ibnu.

0 komentar:

Posting Komentar