Kamis, 08 November 2018

BALAI Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya kembali menggagalkan upaya penyelundupan 481 ekor burung, yang ditemukan di kapal Mutiara Ferindo I dari Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Kapal tersebut mengangkut sebuah truk yang di dalamnya terdapat ratusan burung ilegal. Kapal ditemukan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pada Senin (5/11) lalu. 

Musyaffak Fauzi Kepala Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya mengatakan, ratusan burung itu terdiri dari berbagai jenis. Di antaranya, 64 ekor burung Beo, 293 ekor burung Cucak Hijau, dan 124 ekor burung Murai Batu. Dari 481 ekor yang dibawa, 133 di antaranya ditemukan dalam kondisi mati. 

Diduga, ratusan burung itu mati karena stress. Sebab untuk mengelabui petugas, ratusan burung tanpa dokumen karantina itu disembunyikan di antara tumpukan kayu-kayu dengan kondisi yang tidak normal, panas, dan gelap. Sehingga, unggas ini rentan menjadi stress dan mati. 

"Berawal dari laporan masyarakat terkait adanya aktivitas pengiriman burung dari Kaltim ke Surabaya. Kami langsung berkoordinasi dengan Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk melakukan pengawasan. Ternyata benar di dalam kapal itu ada truk yang memuat burung tanpa dilengkapi dokumen karantina, ya bisa disebut ilegal. Saat ditemukan, ada beberapa burung yang mati mungkin karena stress. Ada 2 ekor beo, 32 ekor cucak hijau, dan 99 ekor murai batu," kata Musyaffak, Kamis (8/11).

Sesuai dengan peraturan Pasal 6 UU nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan bahwa untuk melalulintaskan burung dari suatu area ke area lain di Indonesia, harus dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari daerah asal. Untuk itu, pengiriman hewan yang tidak dilengkapi dokumen kesehatan merupakan sebuah pelanggaran. 

Sertifikat kesehatan itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa unggas yang dikirim terbebas dari penyakit berbahaya. Seperti contoh, penyakit flu burung yang rentan menularkan virus dari unggas ke lainnya. Sehingga, dapat dipastikan kesehatannya dan tidak akan menyebarkan penyakit kepada hewan lainnya dan aman juga bagi manusia. 

"Bahwa pengiriman burung-burung ini harus dilengkapi sertifikat kesehatan karantina. Kami tidak bisa menjamin apakah ini aman atau malah bisa menularkan penyakit berbahaya. Kalau ada sertifikat pasti aman, karena kita sudah melakukan pengujian sebelumnya," tambahnya. 

Selain tidak disertai dokumen kesehatan yang lengkap, kata dia, dari tiga jenis burung yang diamankan, dua di antaranya termasuk hewan yang dilindungi. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, burung cucak hijau dan burung murai batu merupakan hewan yang dilindungi. 

"Rencananya diedarkan di Surabaya. Contoh ya, kalau beo ini bisa dijual sampai harga Rp10 jutaan per ekornya. Kalau yang lainnya bisa lebih mahal. Sementara ini, ada dua pelaku yang kami amankan untuk proses pidana lebih lanjut. Kami akan menyelidiki ini pemiliknya orang mana," kata dia.

Selanjutnya, pihak BBKP Surabaya akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan uji kesehatan terhadap ratusan burung ilegal ini. Apabila unggas ini terbukti sehat, pihaknya akan mengembalikan ke habitat semula. Namun apabila unggas ini tidak sehat, terpaksa ratusan burung itu akan dimusnahkan. 



Info dan foto: www.suarasurabaya.net.
Editor: Ibnu.

0 komentar:

Posting Komentar