Jumat, 14 September 2018


MBOK SEMI (88) bersama anaknya Kasminah (55), dua janda yang sudah cukup usia tersebut kini hanya bisa menunggu nasib di sisa usianya yang tergolong sudah lanjut. Mereka tinggal di emperan rumah milik Darmiati, warga RT 5 RW 1 Desa Puncel. Hidupnya pun kini hanya menunggu belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya yang masih mau peduli kehidupan mereka.

Kisahnya bermula pada 55 tahun silam. Saat itu Mbok Semi bersama Kasminah berjalan kaki dari wilayah Ngawen, Kabuapten Blora. Seminggu menempuh perjalanan, akhirnya mereka berhenti di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah tempat saat ini keduanya menetap.

“Niat kami meninggalkan rumah saat itu adalah untuk mencari kehidupan yang layak. Tepatnya tahun 1963 saya dan ibu saya berhenti di Puncel ini setelah seminggu berjalan kaki. Kami akhirnya memutuskan menjadi pembantu di rumah Pak Sukorejo,” kisah Kasminah.

Ia bercerita, kisahnya jadi tak menentu setelah sang majikan meninggal sepuluh tahun lalu. Saat itu, mereka sempat melanjutkan menjadi pembantu rumah tangga di kediaman anak Sukorejo yang berada di Jakarta. Namun mereka hanya dipekerjakan selama 5 tahun dan kembali lagi ke Desa Puncel.

Selama itu pulalah mereka belum menerima upah ataupun balas jasa atas kerja selama 50 tahun. Kini mereka tak bisa lagi tinggal di rumah milik almarhum Sukorejo meski kondisinya kosong. Mereka oleh pihak keluarga dilarang menempati tempat tersebut.

“Dulu saat bekerja kami hanya diberi makan dan uang sekedarnya saja. Harapannya pihak keluarga ada yang peduli dengan nasib kami dengan memberi imbalan selama kami bekerja. Sekedar untuk membuat rumah kecil untuk berteduh di hari tua kami. Agar tidak merepotkan orang lain,” ujar Kasminah lirih.

Kini, mereka hanya tinggal di emperan rumah milik Darmiati, warga RT 5 RW 1 Desa Puncel. Ditempat berukuran 2,5×3 meter dan berdinding terpal itu mereka ikut berteduh menjalani hari-harinya. Di ruangan kecil itu, selain untuk tempat tidur ditempat itu pula ia juga menaruh perabotan memasak dan almari pakain.

“Dulu sebelum di sini mereka sempat tinggal di rumah warga Cengkihan. Namun, karena takut kalau mereka meninggal atau karena alasan apa mereka tidak boleh lagi tinggal. Melihat mereka tidak ada tempat berteduh akhirnya saya menyuruh tinggal di sini. Dulu sempat saya suruh tinggal di dalam rumah, tapi mereka memilih di emperan karena tidak ingin merepotkan,” ujar Darmiati.

Sementara, Kepala Desa Puncel Sutiyono menjelaskan, bahwa kedua warganya tersebut hidup dari belas kasihan tetangga. Kondisi Mbok Semi juga semakin memprihatinkan setelah dua bulan lalu terjatuh dan kini tak bisa berjalan.

“Kalau mau dibawa berobat selalu tidak mau. Alasannya juga karena tidak mau merepotkan orang lain. Kita juga berharap ada pihak-pihak yang peduli terutama dari pihak keluarga majikannya dulu agar bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Meski secara detail, kami juga tidak tahu permasalahannya seperti apa,” harapnya.



Info dan foto: www.murianews.com.
Editor: Ferry.

0 komentar:

Posting Komentar