Selasa, 18 September 2018


HILIR mudik warga di sekitar Waduk Pacal, Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menyeberang menggunakan perahu tembo. Mereka memanfaatkan lahan kering di seberang waduk sebagai lahan pertanian.

Sejumlah warga sekitar waduk yang diresmikan pada 1933 itu banyak memanfaatkan lahan yang kering saat kemarau untuk ladang pertanian. Mereka menanam jagung, padi dan palawija. Lahan tersebut hanya bisa digunakan saat musim kemaru.

Sisa air saat musim kemarau seperti saat ini tidak bisa digunakan sebagai irigasi. Bebera warga memanfaatkan untuk mencari ikan. Hasil ikan tangkapan itu bisanya langsung dibeli oleh para pengunjung yang sedang berwisata.

Di waduk peninggalan Belanda itu banyak ikan jenis Tombro, Kuthuk dan ikan Gloso. Salah seorang pembeli, Sri asal Kecamatan Temayang sengaja datang ke Waduk Pacal untuk membeli ikan Khutuk. "Untuk lauk makan nanti malam," ujarnya, Senin (17/9).

Ikan segar hasil tangkapan itu dijual dengan harga Rp15 ribu sampai Rp30 ribu untuk 10 sampai 15 ekor. Sedangkan, Sunarti Warga Sugihan, Kecamatan Temayang menggarap lahan di Waduk Pacal. "Ini lagi panen cabai, biasa warga sekitar sini menggunakan lahan waduk Pacal untuk pertanian saat kemarau," ungkapnya.

Untuk menuju ke lahan persawahan itu warga harus menggunakan perahu menyeberangi waduk. Debit air di waduk yang bisa mengaliri lahan pertanian di 10 Kecamatan yang ada di Bojonegoro itu kini hanya tersisa sekitar 1,9 juta meter kubik.



Info dan foto: www.beritajatim.com.
Editor: Adit.

0 komentar:

Posting Komentar