Senin, 27 Agustus 2018


MEMASUKI musim kemarau, sejumlah kawasan di Jakarta mulai kesulitan air bersih. Di antaranya di permukiman padat penduduk di RT 09 RW 08 Kelurahan Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Warga mengeluh air PAM sudah lama seret dan kerap bau.

“Pakai air PAM? Wah saya dah taubat. Hati ini pegel nungguin air keluar. Saya dah lama nyabut meterannya,” tandas Mulyati,46, warga Jelambar saat disambangi di rumahnya, Minggu (26/8).

Setelah tidak lagi menggunakan fasilitas PAM, ibu dua anak ini mengandalkan pasokan air bersih untuk minum dan masak dari pedagang air keliling. Air per jerigen isi 20 liter dibandrol Rp2.500. Sedangkan untuk mandi, mencuci dan mengepel berasal dari air tanah.

“Untuk kebutuhan air yang dibeli dari pedagang air, saya harus merogok kocek berkisar Rp180 ribu per bulan,” katanya.

Keluhan senada dilontarkan Agus Wartoyo, warga RT 11 RW 08 Kelurahan Jelambar. Sudah tahunan ini air PAM di wilayah tersebut sarat masalah, terutama air keluar di jam-jam terbatas.

“Dari pagi, siang hingga sore, air PAM tidak keluar. Keluarnya baru malam sekitar pkl:22.00 itupun kecil airnya,” keluh Agus.

Sejak memutuskan untuk menggunakan air PAM, Agus tidak lagi memanfaatkan air tanah. Sehingga setelah sekian lama air PAM ngadat, Agus harus minta air ke tetangga untuk kebutuhan mandi, mencuci dan lainnya. Sedangkan untuk minum dan masak, ia membeli dari pedagang air.

“Air PAM keluarnya jam-jaman. Kalau pas keluar, kerap kali bau seperti air comberan,” katanya kesal.

Dengan kejadian tersebut membuat dirinya harus berpikir ulang berlangganan air PAM yang sebulannya dikenakan biaya Rp60.000. Agus berencana akan memasang pompa air semi pump agar persoalan air teratasi.

“Pengelola PAM profesional dong kerjanya. Kami sudah bayar bulanan secara patuh dan tidak pernah telat. Tapi mana tanggungjawabnya? Benahi dong pasokan air di sini agar konsumen nyaman,” timpal Sri, warga RT 09 RW 08 Kelurahan Jelambar.

Ketua RT 09 RW 08 Kelurahan Jelambar, Soleh Windarto mengakui warganya yang berlangganan PAM kini semakin kesulitan mendapatkan air bersih karena air terbatas. Di wilayahnya dihuni sekitar 100 Kepala Keluarga yang menempati 83 rumah. Sedikitnya 70% warga setempat merupakan konsumen PAM.

Tokoh warga ini tidak berlangganan PAM, sehingga masih pakai air tanah ditambah beli air. Namun air tanah belakangan ini juga mulai tersendat.

“Sebelumnya jika kami membuka tiga keran sekaligus, airnya semua keluar. Tapi sekarang ini, satu keran tidak ngocor airnya manakala tiga keran dibuka bersamaan,” ungkapnya.




Info dan foto: www.poskotanews.com.
Editor: Adit.

0 komentar:

Posting Komentar