Kamis, 30 Agustus 2018


ADA nuansa yang berbeda dalam tradisi sembahyangan yang dilaksanakan di klenteng Hok Tik Bio Pati, Jawa Tengah. Di klenteng tersebut, disediakan lima gunungan yang berisi sandang, papan dan pangan. Nantinya, gunungan  itu akan diperebutkan oleh warga setempat usai ritual sembahyangan dilakukan.

Bahkan, warga yang dari siang menunggu depan pintu gerbang Klenteng, sudah bersiap-siap membawa kantong maupun tas plastik agar hasil rebutannya bisa di bawa pulang. Tidak hanya dari anak-anak, bahkan warga yang sudah lanjut usia juga turut serta menunggu pelaksanaan rebutan gunungan tersebut.

Ketua Klenteng Hok Tik Bio Eddy Siswanto mengatakan, lima gunungan itu dalam filosofi jawa menunjukan ‘dulur papat limo pancer’ yang merupakan kawanan manusia, tidak hanya di alam nyata, tetapi juga di alam gaib. Itu merupakan filosofi yang digambarkan dalam sebuah gunungan dalam ritual sembahyangan atau ulambana terebut.

“Isi gunungan itu adalah sayur yang meripakan hasil bumi dari Kabupaten Pati, makanan ringan dan lain sebagainya. Itu merupakan perwujudan rasa syukur kami kepada sang pencipta karena telah memberikan limpahan kesejahteraan,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, masuknya gunungan di klenteng tersebut bukan berarti menghilangkan tradisi khas Konghucu. Sebab, itu merupakan rasa bentuk kepedulian yang dilakukan atas jasa KH. Abdurrahman Wahid yang memperbolehkan warga Konghucu untuk melakukan ritual di Indonesia.

“Karena kita hidup di Pati, kita juga tidak mengesampingkan tradisi gunungan yang merupakan warisan nenek moyang. Maka dari itu, selain kami melakukan ritual ulam baha, kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengambil gunungan yang sudah kami sediakan,” imbuhnya.

Warga yang sudah menunggu sejak tiga jam sebelumnya tersebut langsung berupaya masuk ke dalam halaman klenteng untuk memperebutkan lima gunungan. Banyaknya warga yang berusaha masuk, membuat mereka saling dorong demi meraih gunungan.

Dalam waktu kurang dari lima menit, lima gunungan berisi sandang pangan seperti sayur mayor,  pakaian, makanan ringan hinga kebutuhan pokok tersebut langsung habis diperebutkan oleh warga.




Info dan foto: www.murianews.com.
Editor: Ferry.

0 komentar:

Posting Komentar