Selasa, 28 Agustus 2018


JUMLAH desa di Grobogan, Jawa Tengah yang mengalami dampak kekeringan terus bertambah. Pada awal Agustus lalu, jumlahnya baru mencapai 79 desa. Namun, saat ini, jumlahnya sudah bertambah jadi 87 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

“Kondisi sampai hari ini, sudah ada 87 desa yang mengalami dampak kekeringan. Desa sebanyak ini tersebar di 14 kecamatan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro, Senin (27/8).

Dampak kekeringan cukup parah terjadi di beberapa kecamatan. Yakni, Kecamatan Gabus, Geyer, Kradenan, Kedungjati dan Pulokulon. Sedangkan di Kecamatan lainnya, sebagian besar masih kategori sedang.

Terkait kondisi kekeringan itu, Budi menyatakan, pihaknya sudah mulai melakukan droping air bersih sejak dua bulan lalu. Hingga saat ini, bantuan air yang disalurkan sebanyak 288 tangki. Bantuan air bersih diprioritaskan untuk desa yang kategori kekeringannya berat.

“Hingga hari ini, penyaluran bantuan air bersih masih terus kita lakukan. Prioritasnya untuk yang berat dulu. Kekuatan droping per hari sekitar 9 sampai 12 tangki,” jelasnya.

Agus menambahkan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini, sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 175 juta. Dana ini disiapkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penanganan bencana kekeringan, khususnya droping air bersih pada masyarakat. Selain itu, kami juga menggandeng PMI, Baznas, Pengusaha melalui dana CSR, komunitas, dan instansi-instansi non pemerintahan.

Sementara itu, terkait datangnya bencana kekeringan, sejumlah pihak meminta agar pasokan air dari waduk Kedungombo segera dibuka. Pasokan air sudah ditutup sejak awal Juli lalu dan dijadwalkan baru dibuka pertengahan September mendatang.

Penutupan dalam kurun waktu hampir dua bulan itu memang sudah jadi agenda rutin tiap tahun. Mengingat saat ini kekeringan makin parah, banyak pihak berharap agar gelontoran air bisa dibuka lebih awal.

“Salah satu solusi untuk mengatasi kekeringan adalah mengandalkan pasokan air dari Kedungombo. Jika air waduk sudah digelontorkan maka warga akan lebih mudah mendapatkan sumber air untuk mencukupi kebutuhan. Minimal bisa buat nyuci dan mandi atau minum ternak,” kata Nur Arifin, warga Kecamatan Toroh.




Info dan foto: www.murianews.com.
Editor: Bowo.

0 komentar:

Posting Komentar