Rabu, 16 Mei 2018


TIDAK lengkap rasanya kalau bulan puasa tidak ada buah untuk berbuka. Makanya petani dan pedagang timun suri beberapa hari menjelang bulan puasa mulai bermunculan. Mereka berjejer di tepi jalan pantura wilayah Cibitung dan Cikarang serta Kedungwaringin.

Petani mulai memetik buah yang nama latinnya cucumis sativus dan termasuk varietas tanaman cucumber ini beberapa hari menjelang puasa. Buah yang tidak memiliki rasa, namun beraroma harum ini, sepintas dalam pikiran kalau buah itu hanya berproduksi di bulan ramadan saja.

“Timun suri sama juga dengan tanaman, jagung, mentimun dan ubi, kapan saja bisa. Soal musim kita yang ngatur,” cetus Rukman, 40, petani timun suri di kawasan lahan kosong di Kabupaten Bekasi, saat ditemui Selasa (15/5).

Menurut dia, masa panen timun suri hanya dua bulan. “Tinggal hitung aja, bulan apa kita mulai tanam,” lanjut ayah tiga anak yang biasa menanam sayuran ini.

Biasanya para petani timun suri ini mulai menanam tiga bulan sebelum Ramadhan. “Ini untuk jaga-jaga, takut gagal,” timpal Warja, 45, petani yang berusaha di lahan milik Perum Jasa Tirta di tepi saluan induk tarum barat (Kalimalang) Cikarang Utara.

TIDAK PERLU BANYAK AIR

Menanam timun suri, sama halnya seperti menanam mentimun namun berbeda dengan semangka dan melon yang perlu banyak pupuk dan air. “Kalau timun suri, setelah biji bertunas dan berdaun hingga sepanjang 10 cm, cukup menyiram saja pagi siang sore,” jelas Warja, yang mengaku jika ukuran air dan kebutuhan tanaman itu seimbang, maka buah yang diperoleh besar dan bagus.

Bentuk buah tanaman yang pohonnya menjalar ini ada yang sebesar pepaya Bangkok dan beratnya pun mencapai 5 kg. “Tetapi orang jarang yang mau beli seberat itu,” cetus Warja, yang mengaku sebelum menanam dia membuat galengan /tamggul berukuran 1 meter kali 50 meter jumlahnya tergantung luas lahan. “Sudah tiga musim puasa, udaranya panas terus,” lanjut Warja, yang mengaku soal air dia tak mengeluhkan karena di sepanjang saluran tarum barat air melimpah.

Timun suri dapat berbuah setelah tanamannya berusia dua bulan dan itu pun hanya beberapa buah saja. “Orang menyebutnya buah percobaan dan setelah tiga bulan baru lancar, kemudian mati dengan sendirinya,” jelas Warja.

Modal yang dikeluarkan untuk 1 hektar tidak kurang dari Rp 500 ribu.”Itu hanya untuk membeli bibit dan pupuk dan ongkos pembuatan galengan/tanggul. “Kalau panen, 1 hektar bisa mencapai Rp 6 juta selama tiga bulan bersih,” cetus Warja.

DIKIRIM KE LUAR BEKASI

Melimpahnya panen timun suri akan terjadi pada pertengahan ramadan, selain karena semua petani lahannya mulai siap dipetik, kebutuhan warga Bekasi dan sekitarnya pun hanya sedikit. Ditambah jumlah petani dadakan menjamur, mereka memanfaatkan lahan kosong di sekitar areal perumahan dan tanggul kali.

Petani biasanya menjajakan hasil produksinya dengan di tumpuk di tepi jalan dan tidak dijajakan di atas meja. “Tengkulak sudah memesannya dan biasanya dikirim ke Bandung, Jakarta dan Bogor,” kata Warja, sambil menyebutkan untuk 1 kg dia menjual ke tengkulak Rp 2.600- Rp 3.500. Sedangkan dari tengkulak ke penjual berkisar Rp 4.000 – Rp 4.500/kg dan penjual ke konsumen Rp 5.500- Rp 6.500/kg.

Pasokan timun suri dari Bekasi begitu besar, sehingga petani dari luar Bekasi tidak dapat menjual buah sejenis di lokasi ini. “Bahkan ada yang dari Pasar Induk Cibitung dipasok langsung dari beberapa petani di Cibitung,” jelas Warja, yang mengaku enggan memasok ke tempat itu karena harganya murah.



Info dan foto: www.poskotanews.com.
Editor: Ferry.

0 komentar:

Posting Komentar