Senin, 28 Mei 2018

PULUHAN guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) SMAN1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa. Selain demo, para guru juga melakukan aksi mogok kerja.

Ada tiga tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Pertama, menghilangkan sikap arogansi kepala sekolah yang dianggap semena-mena. Kedua, mengembalikan hak gaji GTT dan PTT seperti sediakala dengan tidak mengurangi tunjangan daerah yang diterima. Ketiga, transparansi keuangan sekolah yang tidak lagi menjadi senjata kepala sekolah untuk menghilangkan seluruh kegiatan sekolah bagi guru/karyawan maupun siswa.

Pantauan di lapangan, imbas aksi tersebut sempat membuat proses belajar mengajar di sekolah SMAN 1 Kebomas, Gresik terganggu. Pasalnya, seluruh guru maupun pegawai melakukan unjuk rasa.

Salah satu GTT SMAN 1 Kebomas, Mustofa Ali menuturkan, aksi ini dilakukan karena dirinya bersama rekan-rekannya tidak terima dengan arogansi kepala sekolah serta adanya pemotongan gaji GTT/PTT yang diterima selama ini.

"Hilangkan gaya kepemimpinan yang arogan, diktator dan kesewenang-wenangan disertai ancaman mutasi," ujarnya sambil berorasi, Senin (28/05).

Sambil berunjuk, rasa puluhan GTT dan PTT SMAN 1 Kebomas juga membawa poster bertuliskan 'Stop Arogan, Kembalikan Prestasi SMABOM, Kembalikan Gaji Kami'. 

Menanggapi unjuk rasa Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Kebomas, Gresik Nurus Shobah menyatakan dirinya tetap berpegang pada surat edaran Gubernur Jatim bahwa tunjangan GTT/PTT diperuntukkan untuk mengurangi beban sekolah.

"Tidak benar kalau ada pemotongan sebab tunjangan itu dipakai buat mengurangi anggaran beban sekolah," ujarnya. 

Imbas unjuk rasa itu juga menyebabkan proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah tersebut terganggu. Pasalnya, hampir seluruh guru maupun karyawan melakukan unjuk rasa. 



Info dan foto: www.beritajatim.com.
Editor: Adit. 

0 komentar:

Posting Komentar