Rabu, 30 Mei 2018

 JARINGAN Alumni FISIP Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menggelar doa bersama dan menyerahkan bantuan kemanusiaan ke anak-anak penyandang tuna netra di Panti Asuhan Elsafan Jakarta.

"Sebagian lulusan Unsrat telah merantau dan berdomisili di Jabodetabek. Kunjungan ini merupakan kegiatan bakti sosial (Baksos) pertama yang kami lakukan dari FISIP Unsrat," kata Ketua Tim Baksos Jala FISIP Unsrat, Jhonny Sitorus di Jakarta (29/5).

Menurut Jhonny, baksos merupakan salah cara mengimplementasikan pengabdian pada masyarakat, yang terdapat dalam visi dan misi Tri Dharma perguruan tinggi. Pengabdian pada masyarakat, kata dia, tak hanya dilakukan oleh mahasiswa dan dosen, tapi juga setiap lulusan perguruan tinggi.

"Masih banyak kelompok masyarakat di Jakarta yang kurang mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Padahal sebenarnya banyak kaum disabilitas punya potensi yang sama, bahkan sebagian punya talenta istimewa," tandasnya.

Yayasan Elsafan yang berdiri pada 2006, kini sudah memiliki seklolah luar biasa (SLB) A dan A+ khusus untuk anak-anak penyandang tuna netra. Selain mahir membaca tulisan braille, memiliki bakat menyanyi dan mahir menggunakan alat musik, sebagian peserta didik di sekolah tersebut telah mampu mengetik naskah tulisan di komputer.

"Kini, jumlah penyandang tuna netra di Indonesia lebih dari tiga juta penduduk. Kami memiliki kerinduan untuk turut membantu pemerintah dalam memberantas masalah buta huruf," kata Ketua Yayasan Elsafan, Retson Manyonyo.

Retson yang juga penyandang tuna netra berharap, upaya mengentaskan anak-anak penyandang disabilitas terus mendapat dudungan dari masayarakat dan perhatian pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, setelah tim Jala FISIP Unsrat menyerahkan dana tali kasih dan sumbangan paket sembako, langssung dibalas dengan pemberian cindera mata buku berjudul "Elsafan: Melihat yang tidak bisa Diihat oleh Mata Orang Biasa" yang ditulis oleh Ritson Manyonyo.



Info dan foto: Redaksi.
Editor: Ferry. 

0 komentar:

Posting Komentar