Rabu, 11 April 2018


BAYI telantar yang diduga dibuang oleh orang tuanya kini telah dirujuk ke Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa milik Dinas Sosial DKI Jakarta. Bayi telantar itu ditemukan warga di kawasan Pintu Air 3, Karang Anyar Jakarta Pusat dalam kondisi berlumur lumpur dengan ari-ari yang belum dipotong.

Kepala Satuan Pelaksana Sosial Kecamatan Sawah Besar, Asep Supriyatna mengemukakan, bayi itu ditemukan warga pada 26 Maret lalu. Kemudian warga melaporkan ke polisi dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat untuk memeriksa kondisi bayi tersebut.

"Iya ditemukan warga pintu air 3 Karang Anyar di kolong meja masih berlumur tanah dan ari-ari masih ada belum dipotong atau dibersihkan. Bayinya merah gitu," ujar Asep saat dihubungi pada Rabu (11/4).

Ia melanjutkan, menurut keterangan warga bayi tersebut menangis sehingga warga yang mendengarnya menemukan bayi itu. Kemungkinan ada indikasi kalau bayi yang ditemukan itu dibuang karena kelahirannya tidak diinginkan orang tua.

Setelah dibawa ke RSUK Sawah Besar dan dirawat selama 10 hari, kondisi bayi itu semakin sehat. Berat badannya juga normal. Sehingga memungkinkan untuk segera dirujuk dan dirawat ke Panti Sosial milik Dinas Sosial DKI Jakarta.

Karena menurut dokter, bayi normal dan kondisi sehat itu minimal beratnya harus 2,7 kg. Sedangkan berat bayi itu ketika pertama kali dibawa ke RSUK Sawah Besar hanya 2,3kg. Namun saat ini bayi itu sudah mencapai berat 2,9 kg.

"Waktu kami melakukan kunjungan bersama Kesra Kecamatan Sawah Besar, Ibu Shinta, kami lihat kondisinya semakin baik. Akhirnya kami putuskan untuk membawa ke panti sosial," kata Asep.

Sementara itu, Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa Cipayung, Fifi Kafilatul Jannah mengatakan pihaknya telah menerima bayi tersebut dalam kondisi sehat. 

"Di panti bayi ini akan kami rawat dan penuhi semua kebutuhannya mulai dari makanan yang bergizi dan bernutrisi. Kami pastikan bayi ini tumbuh kembang secara maksimal," ujar Fifi.



Info dan foto: Miftahul Huda.
Editor: Ibnu.

0 komentar:

Posting Komentar