Kamis, 15 Maret 2018

UMAT Hindu di Pura Sasana Bhina Yoga Dusun Sumber Rejo, Desa Sumber Tanggul, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur menyiapkan dua ogoh-ogoh jelang upacara tawur agung. Dua ogoh-ogoh tersebut yakni Hanoman dan Rahwana yang merupakan dua sifat manusia.

Pemangku Pura Sasana Bhina Yoga, Katiran Sudianto mengatakan, persiapan umat se-darma di wilayah Mojosari sudah mulai gotong-royong sejak dua minggu lalu untuk membuat sarana upacara pecaruhan. "Yakni tawur agung jelang pelaksanaan catur brata penyepian," ungkapnya, Rabu (14/3).

Pura Sasana Bhina Yoga mempersiapkan dua ogoh-ogoh. Yakni Hanoman dan Rahwana. Itu mengambarkan sifat manusia ada dua, yakni sifat baik mengutamakan kebenaran dilambangkan Hanoman dan sifat buruk dilambangkan Rahwana. 

"Anoman yakni seekor kera putih, meski wujud kera tapi mempunyai budi pekerti luhur dan membela kebenaran sebagai abdi Prabu Ramawijaya. Hanoman menghacurkan kebatilan, karena Rahwana menculik Dewi Sinta yang merupakan istri Prabu Ramawijaya. Ini dari kisah Ramayana," katanya. 

Cerita itu menggambarkan perebutan perempuan. Hal tersebut, lanjut Katiran, merupakan lambang dari perilaku manusia. Jika dikuasai nafsu dan terbelenggu merebut perempuan yang digambarkan dari sifat Rahwana yakni sifat jahat. 

Persiapan pembuatan dua ogoh-ogoh tersebut memakan waktu dua minggu. "Dimulai 3 Maret sampai saat ini terselesaikan meski belum 10 persen. Nantinya, 16 Maret akan diarak ke Stadion Gajah Mada pada pagi hari dan sore harinya akan digiring keliling Desa Sumber Tanggul. Nantinya akan ada tiga ogoh-ogoh, dua dari Mojosari dan satu dari Gondang," jelasnya. 

Selain ogoh-ogoh, lanjut Katiran, umat Hindu juga menyiapkan sarana upacara banten pencaruan yakni pengorbanan atau mensucikan lingkungan atau alam dan juga memberikan makanan kepada pada para bhuta kala. Karena bhuta kala adalah ciptaan Tuhan YME yang derajatnya di bawah manusia. 

"Semua ini dirangkul sebagai saudara meski sifat bhuta kala, tidak boleh dibenci, tidak boleh dimaki, tidak boleh diusir tapi justru dianggap kerabat sehingga diberi makanan. Tujuannya untuk menetralisir gangguan roh jahat. Jika bhuta kala diberikan makanan, maka akan menganggap kita sebagai saudara, bukan musuh," urainya. 

Masih kata Katiran, selama menjalankan catur braya penyepian diharapkan umat Hindu mampu mengendalikan diri dan panca indra sehingga tidak tergoyahkan oleh nafsu. Dalam proses tawur agung, ada pencaruan, persembayarang bersama, darma wacana (dakwah) pencerahan pengetahuan tentang agama dilakukan satu hari jelang Nyepi. 

Sementara itu, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Mojosari, Sutikno menambahkan, ada 37 Kepala Keluarga (KK) yang  sembayang di Pura Sasana Bhina Yoga atau 100 umat Hindu. "Tapi yang ikut tawur agung nanti ada 600 umat Hindu yang berasal dari 7 pura di Mojokerto. Tahun lalu, kita masih persembahkan satu ogoh-ogoh tapi tahun ini ada dua. Rahwana setinggi 4 meter dan Hanoman 2,5 meter," pungkasnya.



Info dan foto: www.beritajatim.com.
Editor: Ferry.


0 komentar:

Posting Komentar