Jumat, 05 Januari 2018

ASTARA warga RT 12/RW, Kampung/Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten kehilangan kontak dengan Nilawati, anaknya yang menjadi TKW di Arab Saudi.

Astara  masih ingat bahwa anaknya itu berangkat ke Arab pada November 2001 silam. Saat itu anaknya masih berumur 16 tahun.

Nilawati berangkat bersama empat rekannya melalui sponsor yang masih merupakan tetangganya. Semua urusan administrasi keberangkatan ditangani langsung oleh pihak sponsor. Bahkan Astara mengaku tidak tahu menahu, yang dia tahu anaknya tersebut berangkat bersama sponsor dan sejak itu tidak pernah kembali.

Nilawati yang kala itu masih berusia belia, tentu saja tidak bisa berangkat ke luar negeri karena terbentur usia. Bahkan beberapa kali pembuatan paspornya pun ditolak. Namun entah bagaimana awalnya, Nilawati pun kemudian berganti nama menjadi Enah yang tak lain adalah nama bibinya. Diduga pergantian nama tersebut bertujuan agar Nilawati bisa lolos dalam pembuatan paspor dan memuluskan jalannya ke luar negeri.

Setelah empat tahun di luar negeri, Astara baru bisa komunikasi dengan putrinya. Komunikasi itu melalui saluran telfon yang nyasar kepada temannya, tidak langsung padanya. "Dia bilang kerjanya enak, Majikannya baik, tapi belum mau pulang, dia betah," ujarnya, Jumay (5/1).

Pada tahun yang sama, empat orang temannya yang berangkat bersama Nilawatu memutuskan untuk pulang ke tanah air. Nampaknya hal itu membuat Nilawati pun menjadi bimbang dan ingin pulang. Akan tetapi setelah meminta izin pada majikannya, dirinya tidak diizinkan untuk pulang. "Katanya nanti saja diuruskan surat-suratnya kalau mau pulang," katanya.

Pada tahun 2005, Astara mendapatkan panggilan dari Kantor Pos Pontang dan mengabarkan ada surat untuknya. Setelah dibuka di dalam amplop surat tersebut benar ada tulisan tangan anaknya dan selembar cek. Melalui surat itu disampaikan bahwa cek tersebut merupakan uang hasil kerjanya. "Terus katanya, Bah kalau ini diterima tolong kasih ke sponsor 2 bulan, jadi potong gaji 2 bulan untuk sponsor, kalau dulu mah bayar, sekarang mah kalau berangkat dikasih uang. Itu 600 Real sekitar RP. 3 juta di kasih ke sponsor," ujarnya.

Hingga pada akhirnya sekitar tahun 2010, Nilawati pun kembali berencana untuk pulang. Hal itu disampaikannya melalui saluran telfon, namun kali ini lewat sponsornya. Pada saat itu pula dirinya baru tahu bahwa Nilawati telah berganti nama menjadi Enah. "Jadi waktu saya mau bicara dengan anak saya, sponsor bilang panggilnya Enah. Kok gitu yah dalam hati saya. Saya panggil juga dan majikannya panggil dia dan saya ngbobrol juga sama anak saya," ujarnya.

Namun, kenangnya, setelah ada janji dari anaknya untuk pulang, dirinya pun kerap menunggu. Bahkan tiap kali ada mobil yang lewat dirinya selalu berlari keluar rumah. Akan tetapi putri sulungnya yang ditunggu itu tak kunjung datang. Sampai akhirnya Nilawati menghubunginya lagi dan mengatakan batal untuk pulang. "Dia malah bilang saya enggak jadi pulang enggak boleh sama majikan. Sekarang uangnya dulu yang dikirim kata dia. Tapi saya marah waktu itu, saya bilang saya enggak butuh uang, kamu pulang saja dulu 2 bulan mah, abah pengen lihat kan sudah lama," tuturnya.

Sejak saat itulah, komunikasi dengan putrinya tersebut terputus. Dirinya pun tidak tahu bagaimana kondisi anaknya saat ini entah sehat atau seperti apa. Dirinya pun kerap memimpikan anaknya tersebut pulang dan disambut dengan bahagia olehnya. "Sering mimpi anak saya pulang, kepikiran terus soalnya, mungkin sekarang sudah 32 tahun dia," katanya. 



Info dan foto: www.bantennews.co.id.
Editor: Ibnu.


0 komentar:

Posting Komentar