Senin, 04 Desember 2017

KEADAAN yang memaksa ratusan siswa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur harus menjalani Ujian Akhir Semester (UAS) di Masjid Agung dan kondisi diresahkan siswa. Pasalnya, siswa harus berdesak-desakan.

Tidak hanya itu, siswa merasa tidak nyaman. Dan tidak bisa berkonsentrasi saat mengerjakan UAS. Apalagi tidak ada meja untuk alas.

"Tidak nyaman. Karena harus berdesak-desakan. Ratusan siswa langsung UAS bersama," kata salah satu siswa.

Namun, mereka harus berusaha membuat nyaman. Karena demi masa depan. Walaupun dikepung bencana, seperti longsor dan banjir, mereka tetap menjalankan kegiatan pendidikan dengan baik.

"Ya harus semangat. Masih bisa selamat dari bencana. Masih bisa maksimal. Walaupun harus ujian di masjid," kata siswa lainnya dengan mata berbinar.

Diberitakan sebelumnya, akibat terdampak banjir dan longsor tidak mengurungkan beberapa sekolah di Kabupaten Pacitan melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS), Senin (4/12) pagi.

Bahkan tiga sekolah di Pacitan menggelar UAS di masjid dan rumah warga. Pihak sekolah terpaksa melaksanakan UAS di masjid karena ruang kelas masih porak-poranda. Tentu tidak bisa digunakan untuk kegiatan ujian.

Sedikitnya 760 siswa SMPN 1 Arjosari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan melaksanakan UAS di Masjid Agung Pacitan. Padahal lokasinya jauh dari sekolah mereka.

Tapi, mau bagaimana lagi. Akses menuju SMPN 1 Arjosari masih belum bisa dilalui. Pasalnya, tertutup lumpur pascabanjir yang menerjang, Selasa (28/11) dini hari.

"Karena sekolah tidak bisa ditempati. Lumpurnya masih sampai lutut. Tidak memungkinkan untuk UAS di sekolah," kata Endang Wandari, salah satu guru.

Jadi, lanjut dia, pihak sekolah memilih untuk ujian di Masjid Agung. Dinas Pendidikan Pacitan sudah menentukan waktunya bahwa UAS dilaksanakan pada Senin (4/12).

"Ini keputusan paling baik. UAS tetap digelar. Siswa yang bisa UAS ya UAS. Jika tidak nanti bisa menyusul," katanya



Info dan foto: www.beritajatim.com.
Editor: Bowo.


0 komentar:

Posting Komentar