Rabu, 06 Desember 2017

BULAN Desember membawa berkah tersendiri bagi perajin keranjang parsel, di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah, lantaran pesanan untuk momen Hari Raya Natal melonjak menjadi 6000 set. Namun, ada kendala yang mereka hadapi yakni perputaran uang yang lamban. 

Hal itu diakui oleh seorang perajin keranjang parsel anyaman rotan, Tohari (41). Menurutnya, menjelang hari raya Natal memang terjadi lonjakan pesanan. Dari biasanya 1000 set (tiga buah keranjang), kini jumlahnya bisa enam kali lipat. 

"Peningkatan itu ada, namun keadaan ekonomi sekarang agak lesu. Kalau tahun kemarin pelanggan kami begitu pesan parsel uangnya langsung dibayarkan, kalau sekarang mungkin bisa molor," ujarnya ditemui di rumahnya Desa Teluk Wetan RT 18 RW 3, Selasa (5/12). 
 
Ia mengatakan, kenaikan pesanan tidak hanya terjadi pada usaha miliknya. Rerata perajin keranjang parsel yang ada di kawasan tersebut juga mengalami hal serupa. Jika dihitung, total kenaikan pesanan untuk seluruh perajin yang ada di kampung tersebut bisa mencapai 10 persen. 

Selain kendala pembayaran yang lamban, bahan baku rotan juga agak langka. Terutama untuk rotan yang berukuran kecil berdiameter 2-2,5 miimeter. Jika pun ada, harganya pun melonjak. 

"Kalau bahan baku rotan kami peroleh dari pengepul yang mendatangkan dari Kalimantan. Namun untuk yang ukuran 2-2,5 milimeter agak susah dicari, adanya yang 2,7 milimeter. Sedangkan bila parsel dikerjakan dengan rotan berukuran besar, hasil akhirnya tidak rapih," urainya. 

Tohari mengatakan, untuk setiap set parselnya dijual mulai harga Rp 13 ribu hingga puluhan ribu rupiah. Hal itu bergantung pada motif dan besar kecilnya parsel. 

"Menjelang Hari Raya Natal, pesanan sudah ada sekitar 6000. Untuk memenuhinya saya juga mengambil dari tetangga sekitar yang juga membuat kerajinan ini. Pekerja saya yang di gudang ini ada empat, termasuk saya dan istri saya. Namun kalau yang dibawa pulang pekerjanya ada sekitar 10 orang ibu-ibu," pungkasnya. 




Info dan foto: www.murianews.com.
Editor: Ibnu.



0 komentar:

Posting Komentar