Kamis, 07 Desember 2017

WARGA dua dusun, yakni Dusun Banyuanget dan Dusun Kedunggombyang, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur adalah dua titik wilayah terisolir akibat dampak dari bencana alam banjir dan tanah longsor yang menerjang kawasan tersebut.

Akibatnya, sebanyak 66 Kepala Keluarga (KK) di dua dusun tersebut, yakni Dusun Kedunggombyang (16 KK) dan Dusun Banyuanget (50 KK) harus mengungsi karena ancaman tanah longsor yang mengintai dari bukit di atas rumah mereka. Jika warga Dusun Kedunggombyang diungsikan ke masjid di tepi jalan Pacitan-Ponorogo, lain halnya dengan 50 KK warga Dusun Banyuanget yang harus diungsikan ke sekolah di kawasan tersebut.

Alhasil, warga Kedunggombyang dimudahkan dengan penyaluran logistik para pengungsi. Namun tidak demikian halnya dengan 50 KK warga Dusun Banyuanget yang terisolir karena akses jembatan putus. Satu-satunya akses yang bisa dilalui adalah melalui jembatan gantung yang juga sudah dalam keadaan rusak parah di Dusun Tewel, Desa Kedungbendo.

Jembatan penyeberangan ini adalah satu-satunya satunya jembatan gantung yang menjadi penghubung warga desa kedung bendo ke desa lain rusak parah karena terjangan aliran sungai Grindulu.

Namun demikian, kondisi infrastuktur yang rusak tersebut tak menyurutkan langkah relawan menyalurkan bantuan kepada warga Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari.

Pada Minggu (3/12) lalu, Kapolsek Arjosari Ajun Komisaris Polisi Sukinto Herman dan Camat Arjosari Munirul Ichwan bersama para relawan lain nekat menyeberangi jembatan tersebut demi mengantarkan logistik kepada warga Dusun Banyuanget.

Kapolsek Arjosari dan anggota harus bersusah payah dan ekstra hati- hati melewati jembatan gantung yang sudah rusak parah diterjang banjir bandang tersebut. Selain tidak ada pengaman, karena hanya bertumpu pada besi penyangga jembatan, aksi berbahaya tersebut juga memerlukan nyali yang cukup besar dari para relawan.

"Jembatan Tewel rusak parah diterjang banjir bandang beberapa hari lalu, posisi jembatan miring dan tidak dapat digunakan sedangkan jembatan tersebut adalah satu-satunya akses jalan terdekat menuju Dusun Banyuanget, anggota harus ke lokasi melalui jembatan ini karena  jembatan ini adalah satu-satunya akses jalan terdekat menuju Dusun Banyuanget," jelasnya.

Dia mengungkapkan bahwa dengan alat seadanya berupa ember yang diikatkan di badan menggunakan kain, demi kemanusiaan rasa takut menjadi hilang walau harus menyeberangi jembatan yang dibawahnya mengalir sungai yang lumayan deras.

"Alhamdulillah bantuan sudah dikirim kepada warga, walaupun melewati medan sulit karena warga sangat membutuhkan pasokan bahan makanan ya kita harus kirim walaupun harus melewati jalan yang sulit,"kata mantan Kapolsek Tegalombo ini.




Info dan foto: www.pacitanku.com.
Editor: Adit.


0 komentar:

Posting Komentar