Rabu, 29 November 2017

TIM MRI-ACT langsung berkoordinasi dengan BPBD kabupaten Ponorogo terkait langkah-langkah membuka kesempatan masuk ke lokasi bencana di Pacitan.

Jalur akses masuk ke Pacitan dari arah Surabaya dan Wonogiri terputus. Dari hasil pertemuan ini BPBD berkoordinasi dengan Bina marga akan membuka akses masuk ke Pacitan yg terputus karena Longsor, dengan menggunakan alat berat.

Terputusnya jalur masuk ke Pacitan, memaksa tim ACT harus tertahan dan mendirikan posko di Ponorogo. Kegiatan di posko ini selain berkoordinasi dengan BPBD setempat, tim ACT juga menyisir warga yang terdampak bajir di Ponorogo. Ya, banjir di Pacitan mulai merambah ke Ponorogo.

Dari hasil penelusuran, tim ACT menghimpun data sementara tercatat dari jam 12 dini hari tadi. Dari data tersebut ada sekitar 47 Kepala Keluarga dengan jumlah  mencapai 163 jiwa, rata-rata yang mengungsi masih wanita dan anak-anak. Sementara bapak-bapak masih banyak yang bertahan dirumah sekaligus memantau keadaan. 

Para pengungsi berasal dari dari Desa Paju, Brotonegaran & Gandukepuh. Mereka sampai saat ini masih mengungsi di Masjid Agung Ponorogo. Bantuan yang telah masuk berupa makanan, air mineral, selimut yg baru dibagikan sekitar jam stgh 12 oleh Dinas Sosial.

Kebutuhan yang belum masuk sampai hari ini peralatan mandi, pakaian untuk ganti, dan obat-obatan.

Jalur Utama Ponorogo-Pacitan Berhasil Ditembus

Sejak kemarin Pacitan yang terisolir, Jalur utama masuk kota ini semua tertutup. Salah satunya jalur utama Ponorogo-Pacitan yang tertutup longsor. Titik longsor di jalur utama Ponorogo-Pacitan ini berada di Desa Wates Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo. 

"Di lokasi ini ada tiga titik longsor yang menutup jalan. Jarak anatara Titik 1 dan titik 2 sekitar 50 meter, sedangkan titik ke 3 jaraknya sekitar 100 meter dari titik ke 2," ujar Haris, Relawan MRI-ACT yang terlibat di lokasi longsor.

Masih menurut Haris, Ketebalan tanah yang menutup jalan mencapai 1-2 meter. Karena terkena hujan jalan itu menjadi licin sehingga warga tidak berani melewati meski dengan berjalan kaki. Tertutupnya jalur utama di Desa wates ini sudah dibahas dalam pertemuan antara BPBD, MRI-ACT, dan berbagai pihak terkait termasuk Dinas PU semalam.

Oleh sebab itu, sejak jam 8 pagi hari ini (29/11) proses pengerukan segera dilakukan. Pihak-pihak yang terlibat, Kepolisian Ponorogo, PU Jatim, BPBD Jatim, BPBD Ponorogo, dan relawan Aksi Cepat Tanggap. Dalam proses pengerukan ini Dinas PU Jatim mengerahkan 3 alat berat.

Butuh waktu 3 jam untuk membersihkan tanah di titik 1 dan 2. Sementara di titik 3 baru selesai pukul 12 siang. Selama proses pembersihan jalan, warga yang sudah bersiap akan ke Pacitan, menunggu dengan sabar di pinggiran jalan. Sementara di ujung titik longsor 3, transportasi tujuan Pacitan sudah bersiap. 

Tak ayal ketika jalan utama dinyatakan bisa dilewati, tanpa dikomando warga langsung berbondong-bondong menuju transportasi umum. Termasuk tim ACT yang juga langsung meluncur ke Pacitan. Kini jalan utama Ponorogo-Pacitan sudah kembali dibuka, namun pengguna jalan dihimbau tetap waspada dan berhati-hati karena jalanan masih licin.

Di sisi lain, relawan MRI-ACT juga mendapat info bahwa ternyata tanah longsor yang menutup jalur utama Ponorogo-Pacitan tersebut juga menimpa sebuah warung. Pemiliknya bernama Damiyem. Letak warung ini berada di titik longsor 3 yang dikeruk paling akhir.

Tak hanya itu, kabarnya akibat longsor itu pula anak Bu Damiyem terkena pecahan kaca yang mengarah ke tubuhnya. Kondisinya kini masih dalam perawatan medis. Bencana Banjir di Pacitan memberikan kita banyak pelajaran untuk lebih bersahabat dengan alam. Semoga Allah melindungi kita dari segala mara bahaya.



Info dan foto: ACT.
Editor: Ibnu.


0 komentar:

Posting Komentar