Senin, 27 November 2017



SEBANYAK 289 warga Karangasem yang rumahnya berada di kawasan rawan bencana (KRB) III kembali mengungsi ke posko pengungsian di Denpasar, Minggu (26/11). Kembalinya warga ke pengungsian akibat dari letusan Gunung Agung yang menyebabkan erupsi untuk kedua kalinya. Warga yang datang ke pengungsian di Denpasar ini merupakan warga yang sebelumnya sempat mengungsi pada awal status Gunung Agung dinyatakan Awas.

Kepala BPBD Kota Denpasar, IB Joni Ariwibawa saat dikonfirmasi, Minggu (26/11) mengatakan, pengungsi yang datang ke sejumlah posko di Denpasar semuanya berasal dari daerah yang masuk KRB III. Mereka memilih kembali karena adanya hujan abu dan bau belerang yang menyengat.

"Mereka memilih kembali karena letusan yang menyebabkan erupsi saat ini cukup besar. Selain menyebabkan hujan abu juga bau belerang, dan tentu mereka yang berada di kawasan KRB III harus kembali ke pengungsian karena merupakan jalur merah," kata IB Joni seraya menyebut hingga Minggu sore kemarin, jumlah pengungsi ke posko sudah mencapai total 289 jiwa.

Dikatakan IB Joni, pengungsi untuk saat ini ditempatkan di 3 posko yang ada di Kota Denpasar, yakni 184 orang (semuanya berasal dari Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem) ditempatkan di posko yang berada di Jalan Danau Tempe, Sanur, Denpasar Selatan. Sementara di posko yang berlokasi di Jalan Gurita, Sesetan, Denpasar Selatan ada 60 orang. "Mereka baru tiba Minggu sore kemarin. Semuanya berasal dari Desa Besakih," ujarnya. Sedangkan jumlah pengungsi di Posko Kompyang Sujana, Jalan Gunung Agung, Denpasar Barat sebanyak 49 orang yang berasal dari Banjar Umanyar, Desa Ababi.

Untuk pengungsi mandiri, kata IB Joni, pihaknya masih melakukan pendataan, sehingga berapa total jumlah pengungsi mandiri belum bisa diketahui jumlah pastinya. "Yang mandiri kami masih lakukan data. Sementara baru kami data sebanyak 289 orang yang kembali lagi ke tiga posko pengungsian di Denpasar. Ini kemungkinan akan bertambah lagi melihat situasi Gunung Agung seperti itu," kata IB Joni.

Bagaimana ketersediaan logistis? "Untuk logistik sudah disediakan oleh pemerintah, namun kami juga tetap berharap kembali ada uluran tangan masyarakat untuk saudara-saudara kita dari Karangasem yang mengungsi ini," ujarnya.

Salah satu pengungsi Ida Ayu Putri, 23, asal Banjar Umanyar, Desa Ababi, Abang, Karangasem menceritakan, setelah adanya letusan kecil yakni letusan freatik sebelumnya, desa mereka dilanda hujan abu, namun warga masih bertahan. Nah, setelah adanya letusan yang lebih besar membuat abu vulkanik semakin tebal sehingga warga berbondong-bondong memilih untuk mengungsi lagi. "Selain hujan abu, bau belerang yang menyengat dari asap puncak Gunung Agung membuat kami memilih untuk mengungsi kembali ke Denpasar," kata Ida Ayu Putri seraya menyebut abu yang turun membuat mata perih.

Lanjutnya, dengan kondisi itulah warga memilih untuk mengungsi walaupun belum ada imbauan dari pemerintah. "Walaupun belum ada kami tetap mengungsi, saya punya anak kecil nggak mungkin tetap di rumah. Pemerintah mungkin tidak tahu keadaan kami di rumah, kami sendiri yang merasakan abu itu. Memang sebelumnya kami sempat pulang karena situasi tenang-tenang saja kendati sudah diperingatkan," ucapnya.




Info dan foto: www.nusabali.com.
Editor: Bowo.

0 komentar:

Posting Komentar