Selasa, 10 Oktober 2017


SEJUMLAH siswa MI Mafatihul Ulum, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah harus menantang maut saat menempuh perjalanan ke sekolah. Itu karena mereka harus menyeberang jembatan darurat dari bambu, yang sangat sederhana.

Jembatan tersebut, hanya terbuat dari dua buah dilah bambu yang memanjang sekitar 10 meter di atas Kali Gelis. Untuk menyeberang, para siswa harus bergantian sambil berpegangan sebilah bambuyang digunakan untuk pembatas.

Adi Ardian (10), siswa yang turut menyebrang mengaku terpaksa menggunakan medan yang ekstrim tersebut. Karena, jalur tersebut jauh lebih cepat sampai sekolah ketimbang jalur yang normal.

"Kalau memutar melewati Jembatan Ploso. Itu memakan jarak yang jauh mencapai satu kilometer. Jadi lebih lama sampai sekolah," katanya.

Menurut dia, dengan menyebrangi sungai membuat para siswa lebih cepat sampai. Karena, rumahnya yang berada di Desa Sunggingan seberang sungai, sedang sekolahnya terdapat seberangnya lagi.

Saat musim hujan dan banjir, lanjut dia, para siswa memilih memutar meski jauh karena medan yang tak memungkinkan. Karena jarak yang jauh, maka orang tua terkadang memilih mengantarkannya.

Para orang tua, juga khawatir akan jembatan tersebut. Seperti Zubaidah (32), dia mengatakan, dirinya khawatir saat anaknya menyeberang jembatan yang berbahaya itu. Karena, jembatan yang sederhana itu pernah menceburkan anaknya.

"Karena khawatir memilih mengantar anak saya. Saya masih takut jika ada apa-apa dengan anak saya," imbuhnya.




Info dan foto: www.murianews.com.
Editor: Bowo.


0 komentar:

Posting Komentar